Catatan Ngaji Alfi

Lebaran Tak di Rumah, Siapa Takut ?

Ditulisan kali ini mau cerita mengenai pengalamanku ketika dulu pernah lebaran tak dirumah. Gimana rasanya, gimana sedihnya, gimana persiapannya, dan gimana megenangnya saat ini. Mengapa aku menulis cerita ini, yaitu karena saat ini cukup banyak teman yang sedang praktik atau PKL di luar kota yang tentu saja tidak bisa bersua dengan keluarga untuk menikmati lebaran adha.

Izinkan aku menungkan memoar enam tahun yang lalu dalam tulisan pendek ini …

Waktu itu usiaku masih 15 tahun, SMA kelas X. Ingat sekali diriku. Tak ada alat komunikasi yang aku gunakan secara pribadi. Belum punya teman dekat. Dan yang ada hanya musrifah/pembina asrama.

Bayangkan saja, enam tahun yang lalu itu adalah masa-masa awal SMA yang begitu penuh perjuangan. Penuh tangisan. Penuh ketidaktahuan. Penuh sesak. Dan tentu saja penuh dengan rindu. Adalah masa awal masuk asrama atau pondok.

Harusnya masa SMA adalah masa yang penuh bahagia. Salah satunya adalah merasakan bahagia bisa berkumpul bersama keluarga di momen-momen spesial seperti lebaran. Namun, nyatanya tahun pertama di pondok harus kulewati dengan jauh dari orang tua. Belum ada teman yang dekat juga kala itu, karena memang masih awal banget masuk pondok.

Tapi, bismillah … ini cuman sekali aja, batinku dalam hati. Sabar, ini untuk yayasan, ini untuk umat, untuk Islam. Karena memang santri yang tidak pulang adalah santri-santri yang bertugas pada saat solat hari raya. Yayasan selalu mengadakan solat hari raya dengan jamaah yg cukup banyak di tanah lapang sehingga membutuhkan banyak SDM memperlancar jalannya solat hari raya, dan biasanya santriwan yayasan dilibatkan.

Malam harinya, aku mempersiapkan baju dan jilbab. Waktu itu karena aku belum punya seragam santri yang khusus dipakai untuk panitia solat hari raya, maka aku pinjam kakak kelas. Seragamnya adalah gamis elegan warna hijau dengan kombinasi batik. Aku mempersiapkannya seorang diri.

Aku tidak tidur larut, karena pukul 4 pagi,aku dan teman-teman lain yang bertugas harus bangun pukul 4 pagi untuk melakukan persiapan. Bada solat subuh kami harus bertolak ke lokasi solat. Kami berangkat menggunakan mobil yayasan. Saat persiapan pagi, rasa hati udah mulai ada yang kurang, biasanya di rumah pagi-pagi rame antri mandi, ibuk udah ribut. Buru-buru sapu rumah, antri mandi, dll. Emm ini .. baiklahhh 🙁

Sesampainya di lokasi, rasanya aku sedih banget .. yang biasanya ada ibuk disampingku, cuman sama temen-temen aja. Harus bertugas juga lagi. Duhh sabar, ga boleh ngeluhh! Sedihnya lagi tu, pas denger suara takbir, duhh rasanya rungon-rungonen takbir masjid rumah. Pas mulai solat juga udah gak khusyu sama sekali, bawaanya pengen pulang dah hehe.

Setelah selesai dari lokasi solat, kami kembali lagi ke asrama. Setelah kembali ke asrama kami dibebaskan untuk melakukan aktivitas lainnya. Waktu itu aku memutuskan untuk membuat sarapan, yaitu bikin pop mie. Karena kebetulan pagi itu belum ada jatah makan untuk santri. Jadi yasudah aku makan pake pop mie.

Itu dulu …

Sedih, ya pasti sedih. Kangen, ya pasti kangen.

Bayangin aja, anak ingusan umur 15 tahun sudah harus melakukan semua hal seorang diri. Dan tambah sedihnya tu, nggak ada yang namanya voice call, video call apalagi. Santri gak boleh bawa alat komunikasi. Waktu itu cuman bisa nitip SMS lewat musrifah, per SMS bayar Rp 300. Aku wakt itu SMS kakak perempuanku dan keluarga dirumah. Udah itu aja, gak ada komunikasi apa-apa lagi.

Sekali lagi, itu dulu …

Kalau sekarang mengingat jaman betapa cengengnya aku 5/6 tahun yang lalu rasanya aku pengen bilang ke diri aku sendiri, Makasih, fi. Udah jadi pribadi yang mandiri dan kuat. Makasih udah jadi diri kamu, kamu hebat. Makasih fi, udah mau dididik oleh keadaan.”

Saat ini bisa setidak mengeluh dengan keadaan itu karena dari dulu aku dididik oleh orang tua dan sekolah untuk selalu mandiri dan gak boleh ngeluh.

Kalau sekarang direnungkan lagi, aku banyak banget belajar dari kondisi. Belajar dari ketidaknyamanan keadaan. Belajar menerima lingkungan yang tidak nyaman, berusaha menerima didikan orang tua. Belajar dari didikan sekolah dan orang-orang sekitar. Meskipun dulu sering banget menolak didikan, dan pada akhirnya aku tetep melakukan segala didikan meski terpaksa. Yang pada akhirnya lagi, aku bisa merasakan buah manisnya didikan yang aku terima selama ini.

Dimasa yang akan datang kita akan merasakan buah manis dari kesabaran yang telah kita lalui.

Apalagi kita sudah pada fase remaja akhir menuju dewasa, kita seharusnya lebih bisa mengobtrol diri, lebih dapat menahan segala rasa.

Nikmati saja keadaan kita sekarang, life must go on, baby!

Jadi gimana … lebaran tak dirumah, siapa takut?

—-
alfiana fitri istiqomah

About Author

Welcome my blog! Ini cuman blog happy-happy yaa teman-teman. Semoga apa-apa yg kita lakukan, termasuk aku menulis dan teman-temab membaca di blog ini tercatat kebaikan yang dapat mendekatkan kita pada Ridho-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *