Catatan Ngaji Alfi

Habis Gelap, Terbitlah Terang

Hari ini kalender menunjukkan tanggal 29 April 2018, sudah lewat dari satu minggu dari perayaan Hari Kartini yang sedianya diperingati setiap tanggal 21 April 2018. Meskipun sudah lewat satu minggu, gemuruh di dada malah semakin menjadi. Gemuruh ini muncul lagi ketika tadi di kampus wajah Kartini terpampang sangat besar di auditorium.

Gemuruh apa sih emangnya, fi? Gemuruh, inginku berteriak pada duniaa, Heyy, dear … kartini ituu superr hebatttt!! SUPER DUPER, lebih dari yang kita tahu selama ini. Dan melalui tulisan ini aku ingin mengeluarkan teriakanku. *duh, kok jadi emosional begindang yakk. Efek baca sejarah yang ditutup-tutupin mah begini -_- … tenang fi, tenang*.

Ceritain gih ke temen-temen aslinya gimana 🙂

Okee .. mari kita belajar bersama agar tidak ada lagi sejarah yang ditutupi dan kita menjadi lebih tau. 🙂

Sebelumnya kita bersepakat dulu akan hal-hal berikut..

Pertama, kita sepakat bahwa Kartini sering berkirim pesan (surat) dengan sahabat-sahabatnya yang ada di Belanda (read : korespondensi). Sahabatnya adalah Estella Zeehandelaar (aktivis sosial dari Belanda, ada yang menulis Stellah Zinhandelaar) dan Nyonya Abendanon (istri Snouck Hurgronje).

Kedua, kita sepakat bahwa kemudian dokumen korespodensi Kartini dan Abendanon dibukukan menjadi sebuah karya besar dengan judul HABIS GELAP TERBITLAH TERANG.

Nah, dari dua point di atas, kita akan kupas secara agak detail.

Pertama, tentang korespodensi.

Persahabatan antara Kartini dan Abendanon ini yang mengawali adalah Abendanon, bukan Kartini. Ini kisah yang diskenario secara epic. Untuk mendalami betapa epic-nyaskenario ini, mari kita baca hasil tulisan dari Dr. Adian Husaini yang diambil dari penuturan guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur Haluan Etika C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Yaa .. itu tadi kenyataan pertama yang harus kita tahu. Bahwa (menurut Alfi) kecerdasan dan posisi Kartini termanfaatkan dengan baik oleh orang-orang Belanda. Kartini cerdas karena memang beliau sangat senang belajar dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Juga posisi, posisi Kartini sangat baik untuk dapat dijadikan lambang, beliau adalah anak dari seorang bupati yang terhormat.

Tapi alhamdulillah, sebelum kebablasan masuk jurang, Kartini ditunjukkan hidayah yang lebih epic oleh Allah yang pada bagian ini sejarah mulai agak ditutupi. Apa saja yang ditutupi? Ini akan kita bahas di point kedua.

Kedua, penerbitan buku.

Kita selama ini mengerti betul bahwa surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada Abendanon dibukukan menjadi sebuah masterpiece besar, dengan judul HABIS GELAP TERBITLAH TERANG.
Namun, mari kita korek lebih dalam lagi makna sebenarnya dari sebuah tagline viral, Habis Gelap Terbitlah Terang tersebut.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess.
Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Judul kumpulan surat tersebut diambil dari mana? Diambil dari kata-kata yang berulang-ulang ditulis oleh Kartini dalam surat-suratnya kepada Abendanon. Namun, ada pemaknaan yang harus dikupas lebih dalam lagi dari kata-kata Kartini tentang habis gelap terbitlah terang ini. Pemaknaan ini panjang. Dan akan kita pahami mulai dari Surat Curhat Galau Kartini berikut.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.”

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.”

“Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

“Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.”

Dari surat galau Kartini di atas, kita akan dengan mudah sekali mengambil kesimpulan bahwa Kartini adalah sekuler dan penganut feminisme. Kemudian, kita wanita, juga jadi ikut-ikutan menjadi sekuler dan feminisme, dengan dalih meneladani pahlawan besar, Ibu Kartini. Itulah yang kebanyakan terjadi di kita sekarang. Kejadian ini adalah goal dari skenario epic yang Alfi sebutkan di awal cerita ini. (dan ini yang membuat emosi negatif Alfi naik ke permukaan, haha)

Yang harus kita ketahui adalah … tidak semua surat-surat yang ditulis oleh Kartini diterbitkan dalam kumpulan Habis Gelap Terbitlah Terang dan disinilah letak sejarah ditutupi. Agar : yang diketahui publik, yang dianut publik, yang digemborkan publik adalah : sekuler dan feminisme.

Dan inilah cerita dan surat-surat Kartini yang agak ditutupi :

Cerita ini dituliskan pertama kali oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu dari Kyai Sholeh Darat.

Kyai Sholeh Darat adalah ulama mahsyur pada zaman itu. Beliau adalah guru para ulama besar di Indonesia, diantaranya: KH. A.Dahlan (pendiri Muhamadiyah) dan KH. Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama/ NU).

Kyai Sholeh Darat inilah sosok yang mengantarkan Kartini untuk bertransformasi. Transformasi spiritual yang luar biasaahh. Dengan izin Allah, beliaulah yang kemudian menjadi guru spiritual Kartini. Begini mula cerita Kartini bisa bertemu Kyai Sholeh.
Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga paman dari Kartini.

Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku”, ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?

Dialog berhenti sampai di situ. Nyonya Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali MasyaAllah (Sungguh ini atas kuasa Allah). Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Quran diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Quran. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Quran dengan ditulis dalam huruf arab gundul (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Quran ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Inilah, muasal tagline viral Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari yang awalnya Kartini tidak tahu sama sekali isi Alquran kemudian setelah diterjemahkan oleh Kyai Sholeh Darat dalam bahasa jawa dan mempelajarinya Kartini menjadi tahu. Mata hatinya menjadi terbuka. Wawasannya menjadi terbuka.

Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya.”(Q.S. al-Baqoroh: 257).

Dalam banyak suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata Dari gelap menuju cahaya yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat telah wafat.

Setelah Kartini mempelajari Kitab Faidhur Rohman tersebut, beliau benar-benar mengalami transformasi yang luar biasa. Bisa kita lihat dari surat-surat beliau berikut, (yang Alfi duga pasti tidak dimasukkan dalam kumpulan Habis gelap terbitlah terang)

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.”

“Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.”

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis:

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai”

Dan terakhir, yang membuat Alfi agak gemeter adalah surat beliau yang dikirimkan kepada Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis:

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

MasyaAllah .. uwoooo

HEBAT KAN KARTINI? Seorang pembelajar agama yang ulung. Beliau sungguh-sungguh sekali dalam mempelajari tafsir Quran. Tafsirrr gengs! Pelajaran paling detail sejagad keilmuan. Kita aja nihh .. baca quran kalo sempet dan kalo inget aja, astagfirullah.

Jikapun tafsir quran dalam bahasa jawa ini sudah sampai quran surah An Nur ayat 39 atau Al Ahzab ayat 59, yang berisi perintah menggunakan jilbab, Kartini pasti akan berjilbab. Yakin deh .. tapi yang kita ambil hikmah adalah kesungguhan beliau dalam belajar, dalam hal agama khususnya. MasyaAllah, laa quwwata illa billah.

Semoga tulisan agak panjang ini bermanfaat untuk kita semua, dapat menambah bobot kebaikan dalam diri kita, dan mendekatkan kita pada ridhoNya.

Ngalas, 29 April 2018
Alfiana Fi

(sumber belajar : Tulisan Dr. . Adian Husaini ; artikel www.hidayatullah.com ; artikel www.sarkub.com)
Picture from googgle

About Author

Welcome my blog! Ini cuman blog happy-happy yaa teman-teman. Semoga apa-apa yg kita lakukan, termasuk aku menulis dan teman-temab membaca di blog ini tercatat kebaikan yang dapat mendekatkan kita pada Ridho-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *